Narasumber kedua, Kasmury, membongkar mitos lama bahwa pantun hanya lahir dari bakat alami. Menurutnya, pantun memiliki pola yang dapat dilatih secara sistematis.
Ia menjelaskan bahwa pantun terdiri dari sampiran sebagai pembuka suasana, isi sebagai pesan utama, serta kaidah bunyi yang menjaga keindahan ritme. Kunci keberhasilan seorang MC bukan menghafal ratusan pantun, melainkan memahami pola dan konteks acara.
“Pantun harus dilatih dari situasi nyata. Murid diajak mengamati acara, mencatat kata kunci, lalu merangkai pantun dari pengalaman,” jelasnya.
Tokoh adat Zarlis menutup diskusi dengan praktik langsung. Ia melantunkan pantun spontan yang langsung memancing tawa dan tepuk tangan peserta. Momen itu membuktikan bahwa pantun bukan sekadar teks, melainkan seni performatif yang mampu mencairkan suasana.
Menurutnya, pantun bekerja dalam tiga fungsi sekaligus: membuka komunikasi, menghadirkan keindahan bahasa, dan menyampaikan nasihat secara halus.
“Inilah sebabnya pantun penting bagi MC di Tanah Melayu. Ia menurunkan ego panggung dan menaikkan martabat audiens,” katanya.
Talkshow ini juga melahirkan gagasan konkret: gerakan “Pantun to School to Campus”. Perwara Indonesia mendorong agar pantun, gurindam, dan seloka menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan kampus.
Langkah ini dinilai sejalan dengan kebijakan kebudayaan nasional yang mendorong integrasi pantun dalam pembelajaran bahasa Indonesia dan seni budaya. Pantun dianggap efektif sebagai media pendidikan karakter karena sarat nilai cinta keluarga, masyarakat, dan alam.
Dengan jaringan MC, guru, dan budayawan, Perwara optimistis Batam dapat menjadi laboratorium nasional pembelajaran pantun berbasis acara.
Diskusi malam itu menyimpulkan satu hal: pantun bukan artefak museum. Ia adalah teknologi sosial yang memungkinkan masyarakat menyampaikan pesan dengan santun dan elegan.
Budaya tidak bertahan karena disimpan, tetapi karena terus diucapkan dalam konteks baru.
Seperti pantun penutup acara malam itu:
Buah mangga dibelah-belah,
Campur dengan gula aren.
Jika Perwara turun ke sekolah,
Warisan pantun semakin keren. (**)
